Ingin Terjun ke Bisnis Walaraba? Ajukan Dulu Pertanyaan Ini

Ingin Terjun ke Bisnis Walaraba? Ajukan Dulu Pertanyaan Ini

 

Liputan6.com, Jakarta - Untuk mendapatkan informasi penting bagi yang tertarik untuk berbisnis franchise atau bisnis waralaba dengan melakukan wawancara pemilik franchise dan mantan pemilik franchise. Dengan bertanya dan wawancara dapat mengetahui kesempatan bisnis franchise.

Berbicara kepada pemilik franchise menjadi komponen penting untuk melihat prospek bisnis dan kerja sama ke depan.

Untuk memulai proses tersebut, awalnya menemukan daftar franchisee saat ini. Anda bisa pergi ke pameran franchise untuk pertimbangan. Kemudian kumpulkan informasi dari daftar tersebut.

Anda kemudian bisa hubungi banyak franchisee baik saat ini atau mantan pebisnis franchise. Ini dilakukan agar Anda dapat melihat tren dan identifikasi franchise tersebut.

Dari keterangan yang diterima Liputan6.com, Kamis (16/6/2016), saat ini waralaba di Indonesia masih didominasi oleh sektor makanan dan minuman yang mencapai 60 persen dari seluruh waralaba yang ada. Di luar itu, masih banyak bidang lain yang bisa digarap oleh pelaku waralaba.

Pekerjaan rumah yang juga mesti jadi perhatian adalah masih minimnya waralaba bermerek lokal. Dari sekitar 700 warala yang ada di Indonesia, baru 55 waralaba yang merupakan merek lokal. Hal ini

Ketua Umum Asosiasi Franchise Indonesia (AFI), Anang Sukandar, berharap penyelenggaraan IFRA bisa memicu masyarakat untuk lebih berani menjadi pengusaha melalui sistem waralaba.

"Sektor waralaba memberikan kontribusi yang cukup besar bagi ekonomi Indonesia," katanya.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan, Srie Agustina, mengatakan sampai Mei 2016 pertumbuhan ekonomi tercatat mencapai 4,9 persen. Dari angka tersebut, 4,4 persen disumbang oleh sektor perdagangan besar dan eceran, termasuk waralaba, atau sekitar Rp 303,4 triliun.

Hal ini mencerminkan besarnya perputaran uang yang beredar di sektor waralaba. Namun Srie menyatakan pertumbuhan sektor waralaba di Indonesia belum seperti yang diharapkan.

Belum adanya aturan main yang jelas di sektor waralaba menjadi salah satu kendala yang membuat pertumbuhan waralaba di Indonesia terasa lambat. Untuk itu, pemerintah saat ini sedang menyusun peta jalan yang akan menjadi panduan bagi pengembangan bisnis waralaba di Indonesia.

Peta jalan ini akan memberikan berbagai informasi terkait waralaba seperti bagaimana mengembangkan dan mengelola bisnis waralaba.

Dengan pemahaman yang baik tentang berbagai faktor terkait waralaba, para pelaku diharapkan bisa mengembangkan bisnis mereka secara berkesinambungan, tidak hanya di dalam negeri tetapi di luar negeri.

Saat ini, baru beberapa merek waralaba yang bisa menembus pasar internasional seperti Kebab Turki Baba Rafi, Es Teler 77, Alfamart, Bumbu Desa dan lain-lain.

Salah satu strategi yang bisa digunakan oleh pelaku waralaba untuk mengembangkan bisnis mereka adalah dengan memanfaatkan teknologi digital.

Srie Agustina mengatakan, pemerintah mendorong pebisnis waralaba Indonesia untuk mulai melirik teknologi digital atau online dalam mengembangkan usaha mereka.

“Sekarang adalah era digital. Jadi ke depan kita harus sinergikan perkembangan ekonomi dengan fenomena digital ini,” ujarnya.

Saat ini sosial media memiliki peran yang cukup dominan dalam menyebarkan suatu trend. Apabila pelaku waralaba cermat menggunakan sosial media dan situs mereka, dampaknya akan sangat baik bagi usaha mereka.

 Source : Liputan6.com

We use cookies to operate this website and to improve its usability. Full details of what cookies are, why we use them and how you can manage them can be found by reading our Privacy & Cookies page. Please note that by using this site you are consenting to the use of cookies.